FOKUS: MENGAKUI KELEMAHAN ITU INDAH
Setelah didiskusikan pajang lebar dengan direksi, dan pertimbangan yang walaupun lumayan cepat, akhirnya aku mengambil resiko untuk resign.
Barusan, aku sowan ke bos besar dengan niatan pamit, sebagai niat baik dari seorang aku kepada Babe.
Lalu kami pun terlibat diskusi tentang persoalan bangsa. Begini, begitu, dan tidak habis-habis. Tetapi yang mencengangkan, Babe mengakui kelemahannya sebagai seorang yang sedang memperkerjakan orang lain.
Bagaimana tidak, semuanya lebih sulit sekarang. Harga untuk hidup lebih tinggi, dan hak untuk mendapat kehidupan yang layak makin susah. Tentu kita masih jauh lebih beruntung, daripada saudara-saudara kita yang hidup dibawah UMR. Yang perlu kita lakukan adalah lebih berhemat sedikit, dan semuanya masih berjalan dengan –at least- baik. Tapi mereka, misal tukang ojek, sopir angkot, tukang roti keliling, pemilik warteg atau burjo, sudah semakin tercekik dengan keadaan ini.
Saya belum begitu tahu keadaan di desa, tapi di kota, komunitas urban poor itu hidup sussaaaah, mati tidak mau. Yang mendasari pemikiranku adalah komunitas desa diberkahi dengan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan. Yah.. kalau tidak ada lauk untuk makan ya tinggal ramban (jawa: memetik daun dari kebun/ hutan), terus dibuat lalapan. Walaupun, tidak bisa ditutupi, masih ada saja daerah yang tidak dipasok listrik, fasilitas sekolah dan kesehatan jauh, apalagi soal infrastruktur.
Kembali ke tema, agaknya budaya mengakui kelemahan diri itu perlu digalakkan. Ya, Indonesia memang miskin, bukan dari statistik, tapi dari kenyataan yang ada. Lihatlah dan dengarlah, dan akui kalau penurunan standar kualitas hidup memang benar-benar terjadi. Dan berpikir: apa yang bisa kita perbuat untuk itu?
Bukan! Bukan dengan demo yang anarkis (apalagi yang nyimeng dulu), bukan dengan saling menyalahkan orang lain (atau hal lain). Yang perlu kita lakukan adalah, apa yang kita bisa untuk mengurangi masalah Indonesia (yang kata Babe, tidak akan habis dalam 5 dekade, mungkin bisa 10 dekade), dan fokuslah disitu. Misalnya, insinyur-insinyur coba cari inovasi membuat bangunan SD yang kuat gak mungkin ambruk dalam waktu lama, tetapi ekonomis. Para kotraktor ya jangan nyunat-nyunat uang untuk pembangunan. Panitia lelang juga harus mau kerja tanpa dibayar, lah kan itu tugasmu sebagai PNS.
Fokuslah. Kalau dokter ya kasih pengobatan gratis untuk yang tidak mampu, informasikan juga kepada mereka soal askeskin, kasih mereka obat 1000-an, atau malah carikan mereka alternatif obat dari alam sekitar (nah ini kerjaannya ahli farmasi sama ilmuwan-ilmuwan kita).
Fokuslah. Kalau ngebet jadi anggota DPR ya, diniati untuk jadi wakil rakyat. Mendengarkan, dan menyuarakan hati rakyat. Jangan diniati untuk balik modal! Lha wong, yang namanya rejeki itu Yang di Atas yang ngatur.
Pemerintah juga jangan putus asa dong! Katanya bangkit? Lha, diguncang harga minyak aja kok gak ketemu solusi yang baik untuk semua? Investasikan sebagian dana untuk alternatif energi baru. Tetapi yang fokus. Jangan departemen A investasi ke listrik tenaga nuklir, lalu departemen B investasi ke listrik tenaga sekam, lalu departemen lain lagi investasi ke lain lagi. Bukankah harga yang dibayar untuk preliminary study itu juga mahal?
Banyak kok, orang Indonesia yang hebat dan berhati. Rendahkan hati Pemerintah saja untuk mengumpulkan mereka, mereka pasti mau bantu. Bagaimanapun karena penataran P4 yang dulu itu sudah tertanam nasionalisme dan semangat untuk melakukan sesuatu untuk bangsa. Tetapi ya itu, harus bareng-bareng. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh -lah pokoknya!
I red FORTUNE magazine a couple days ago, and what was fascinating me much is a profile of Indra Nooyi.
Why?
First of all, she is a woman, run a big company –PEPSI CO- and the sales goes up under her leadership, and she has Indian background –same as me. It might be because of her background, her business steps are based on how this business could and continuously good for all.
She is supported by her family, especially by her mother and husband. Her mother raised her to be a dreamer a long with rational thinking. You can help the country as long as you make sure your home fires burning, was what her mother says to little Indra. Her great husband is beside her when she decides to pursue her dream.
Grow up in the similar patriarchy society, here in Indonesia, sometimes woman feel afraid to run over my dreams. Woman afraid that, nobody wants her become his wife, then she could not have her own family. Sometimes it worsens by the question, “… So, when will you get marry?”.
Indra Nooyi is one example of successful career woman without put less attention to her family. If she can, why can’t we?
Kampung Kami
Semakin lama aku semakin takut, akan penggusuran yang akan terjadi. Kampung kami bukanlah sebuah area yang besar seperti di Jawa sana. Kami bukanlah orang-orang yang punya kekuatan besar yang mampu menghindarkan kengerian ini.
Apartemen –apartemen dan mall mall sudah penuh mengelilingi kami. Mereka melakukan politik “capit urang”. Bah, seperti jaman belanda saja. Membuat kami makin sesak, sesak, dan sesak. Sempit, sempit, dan sempit.
Lalu, akan menjadi apa lagi kampung ini? Apartemen yang lain? ITC yang lain? Mall yang lain? Tidakkah sudah cukup banyak mereka di Jakarta? Menyediakan kebutuhan hidup, living with quality of life. Cih.
Asalkan tahu saja. Kami sudah memiliki the best quality of life yang mereka dengung-dengungkan di iklan pemasaran mereka. Mereka bahkan tidak tahu quality of life itu seperti apa. Apa yang orang barat inginkan itu, yang mereka jadikan acuan itu, sudah kami punyai. Sudah Indonesia punyai –kalau anda mau dengar- sejak jaman dulu.
Kampung kami bukan menyediakan melulu rumah, pos kemanan, dan fasilitas umum. Ini adalah tempat hidup kami. Tempat kami bercengkerama dan menyapa, berkeluh kesah tentang harga bahan-bahan yang makin naik tiap harinya.
Aku bisa mampir ke tempat Pak Anu atau Bu Ini untuk membeli barang-barang mingguan sepulang kerja, dan mendapatkan berita gratis dari koran pagi tadi sebagai bonusnya. Servis gratis macam ini banyak juga yang memberikan, tukang sayur misalnya.
Masjid kami selalu penuh. Juga pada waktu shubuh. Mungkin itu disebabkan oleh penjaga masjid kami yang selalu bangun lebih dini untuk -rese- memanggil-manggil kami ber-shubuhan?
Kami juga punya taman kecil yang ramai anak sekolah di pagi hari, siang sedikit ramai oleh ibu-ibu yang mau jemput anak mereka, kala sore oleh segala macam umur yang ingin nonton dan ditonton.
Tiap malam minggu pedagang-pedagang musiman mendatangi kami berombongan, menggelar pasar tiban, di jalan dekat taman tadi. Hanya barang-barang ala kadarnya; tebah kasur, sandal karet, batu asah, dan kadang aneka jepit centil yang mu-mer. Untuk barang-barang macam itu, masa iya kami harus mencarinya di mall? ITC?
Itulah kampung kami. Setiap sudutnya memiliki nostalgi. Bukankah kota Paris yang masyur itu menyenangkan karena kota itu menyimpan semua kenangan perkembangannya?
Jika kampung kami digusur, kami mungkin bisa tinggal disalah satu rumah-rumah itu. Tapi, adakah toko didekat rumah kalau sewaktu-waktu ibu membutuhkan garam kala memasak? Apakah penjaga masjid yang baru bersedia dimaki setiap shubuhnya karena rese memanggil-manggil bershubuhan? Apakah ada pasar tiban setiap malam minggunya?
Lalu bagaimana dengan komunitas kucing yang beranak pinak di kampung kami? Kemana mereka akan tinggal? Juga, kalau mereka meratakan tempat ini, kemana burung-burung itu akan tinggal?
Mereka mungkin menyajikan desain rumah impian, jalan lebar berpaving, lengkap dengan pohon-pohon dikanan kirinya. Pohon yang anggun dan berbunga, tetapi kecil ringkih dan tidak berguna. Jalan yang lebar, rumah berhalaman luas yang makin menjauhkan tetangga dan tetangga, yang saling mengintip dari jendela, curiga mencurigai.
Apakah itu yang mereka namakan having the quality of life?
Aku bukan orang pintar, bukan pula mengerti soal moral dan agama. Tetapi, bukankah nenek anda juga pernah bilang: jika tidak menghargai sepercik tanda kehidupan tidak mungkin akan mengerti arti kehidupan yang lebih besar.
Kami undang bapak dan ibu untuk tinggal dan merasakan kampung kami. Barang 1 minggu atau 1 bulan, merasakan apa yang kami rasakan, baru putuskan.
Bukankah hidup bukan hanya sekedar bangun-sarapan-kerja-pulang-makan-tidur?