FOKUS: MENGAKUI KELEMAHAN ITU INDAH
May 27, 2008
Setelah didiskusikan pajang lebar dengan direksi, dan pertimbangan yang walaupun lumayan cepat, akhirnya aku mengambil resiko untuk resign.
Barusan, aku sowan ke bos besar dengan niatan pamit, sebagai niat baik dari seorang aku kepada Babe.
Lalu kami pun terlibat diskusi tentang persoalan bangsa. Begini, begitu, dan tidak habis-habis. Tetapi yang mencengangkan, Babe mengakui kelemahannya sebagai seorang yang sedang memperkerjakan orang lain.
Bagaimana tidak, semuanya lebih sulit sekarang. Harga untuk hidup lebih tinggi, dan hak untuk mendapat kehidupan yang layak makin susah. Tentu kita masih jauh lebih beruntung, daripada saudara-saudara kita yang hidup dibawah UMR. Yang perlu kita lakukan adalah lebih berhemat sedikit, dan semuanya masih berjalan dengan –at least- baik. Tapi mereka, misal tukang ojek, sopir angkot, tukang roti keliling, pemilik warteg atau burjo, sudah semakin tercekik dengan keadaan ini.
Saya belum begitu tahu keadaan di desa, tapi di kota, komunitas urban poor itu hidup sussaaaah, mati tidak mau. Yang mendasari pemikiranku adalah komunitas desa diberkahi dengan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan. Yah.. kalau tidak ada lauk untuk makan ya tinggal ramban (jawa: memetik daun dari kebun/ hutan), terus dibuat lalapan. Walaupun, tidak bisa ditutupi, masih ada saja daerah yang tidak dipasok listrik, fasilitas sekolah dan kesehatan jauh, apalagi soal infrastruktur.
Kembali ke tema, agaknya budaya mengakui kelemahan diri itu perlu digalakkan. Ya, Indonesia memang miskin, bukan dari statistik, tapi dari kenyataan yang ada. Lihatlah dan dengarlah, dan akui kalau penurunan standar kualitas hidup memang benar-benar terjadi. Dan berpikir: apa yang bisa kita perbuat untuk itu?
Bukan! Bukan dengan demo yang anarkis (apalagi yang nyimeng dulu), bukan dengan saling menyalahkan orang lain (atau hal lain). Yang perlu kita lakukan adalah, apa yang kita bisa untuk mengurangi masalah Indonesia (yang kata Babe, tidak akan habis dalam 5 dekade, mungkin bisa 10 dekade), dan fokuslah disitu. Misalnya, insinyur-insinyur coba cari inovasi membuat bangunan SD yang kuat gak mungkin ambruk dalam waktu lama, tetapi ekonomis. Para kotraktor ya jangan nyunat-nyunat uang untuk pembangunan. Panitia lelang juga harus mau kerja tanpa dibayar, lah kan itu tugasmu sebagai PNS.
Fokuslah. Kalau dokter ya kasih pengobatan gratis untuk yang tidak mampu, informasikan juga kepada mereka soal askeskin, kasih mereka obat 1000-an, atau malah carikan mereka alternatif obat dari alam sekitar (nah ini kerjaannya ahli farmasi sama ilmuwan-ilmuwan kita).
Fokuslah. Kalau ngebet jadi anggota DPR ya, diniati untuk jadi wakil rakyat. Mendengarkan, dan menyuarakan hati rakyat. Jangan diniati untuk balik modal! Lha wong, yang namanya rejeki itu Yang di Atas yang ngatur.
Pemerintah juga jangan putus asa dong! Katanya bangkit? Lha, diguncang harga minyak aja kok gak ketemu solusi yang baik untuk semua? Investasikan sebagian dana untuk alternatif energi baru. Tetapi yang fokus. Jangan departemen A investasi ke listrik tenaga nuklir, lalu departemen B investasi ke listrik tenaga sekam, lalu departemen lain lagi investasi ke lain lagi. Bukankah harga yang dibayar untuk preliminary study itu juga mahal?
Banyak kok, orang Indonesia yang hebat dan berhati. Rendahkan hati Pemerintah saja untuk mengumpulkan mereka, mereka pasti mau bantu. Bagaimanapun karena penataran P4 yang dulu itu sudah tertanam nasionalisme dan semangat untuk melakukan sesuatu untuk bangsa. Tetapi ya itu, harus bareng-bareng. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh -lah pokoknya!
Entry Filed under: politic. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed