Posts filed under 'social issues'

Kampung Kami

Semakin lama aku semakin takut, akan penggusuran yang akan terjadi. Kampung kami bukanlah sebuah area yang besar seperti di Jawa sana. Kami bukanlah orang-orang yang punya kekuatan besar yang mampu menghindarkan kengerian ini. 

Apartemen –apartemen dan mall mall sudah penuh mengelilingi kami. Mereka melakukan politik “capit urang”. Bah, seperti jaman belanda saja. Membuat kami makin sesak, sesak, dan sesak. Sempit, sempit, dan sempit. 

Lalu, akan menjadi apa lagi kampung ini? Apartemen yang lain? ITC yang lain? Mall yang lain? Tidakkah sudah cukup banyak mereka di Jakarta? Menyediakan kebutuhan hidup, living with quality of life. Cih. 

Asalkan tahu saja. Kami sudah memiliki the best quality of life yang mereka dengung-dengungkan di iklan pemasaran mereka. Mereka bahkan tidak tahu quality of life itu seperti apa. Apa yang orang barat inginkan itu, yang mereka jadikan acuan itu, sudah kami punyai. Sudah Indonesia punyai –kalau anda mau dengar- sejak jaman dulu. 

Kampung kami bukan menyediakan melulu rumah, pos kemanan, dan fasilitas umum. Ini adalah tempat hidup kami. Tempat kami bercengkerama dan menyapa, berkeluh kesah tentang harga bahan-bahan yang makin naik tiap harinya. 

Aku bisa mampir ke tempat Pak Anu atau Bu Ini untuk membeli barang-barang mingguan sepulang kerja, dan mendapatkan berita gratis dari koran pagi tadi sebagai bonusnya. Servis gratis macam ini banyak juga yang memberikan, tukang sayur misalnya.  

Masjid kami selalu penuh. Juga pada waktu shubuh. Mungkin itu disebabkan oleh penjaga masjid kami yang selalu bangun lebih dini untuk -rese- memanggil-manggil kami ber-shubuhan? 

Kami juga punya taman kecil yang ramai anak sekolah di pagi hari, siang sedikit ramai oleh ibu-ibu yang mau jemput anak mereka, kala sore oleh segala macam umur yang ingin nonton dan ditonton.  

Tiap malam minggu pedagang-pedagang musiman mendatangi kami berombongan, menggelar pasar tiban, di jalan dekat taman tadi. Hanya barang-barang ala kadarnya; tebah kasur, sandal karet, batu asah, dan kadang aneka jepit centil yang mu-mer. Untuk barang-barang macam itu, masa iya kami harus mencarinya di mall? ITC? 

Itulah kampung kami. Setiap sudutnya memiliki nostalgi. Bukankah kota Paris yang masyur itu menyenangkan karena kota itu menyimpan semua kenangan perkembangannya? 

Jika kampung kami digusur, kami mungkin bisa tinggal disalah satu rumah-rumah itu. Tapi, adakah toko didekat rumah kalau sewaktu-waktu ibu membutuhkan garam kala memasak? Apakah penjaga masjid yang baru bersedia dimaki setiap shubuhnya karena rese memanggil-manggil bershubuhan? Apakah ada pasar tiban setiap malam minggunya? 

Lalu bagaimana dengan komunitas kucing yang beranak pinak di kampung kami? Kemana mereka akan tinggal? Juga, kalau mereka meratakan tempat ini, kemana burung-burung itu akan tinggal? 

Mereka mungkin menyajikan desain rumah impian, jalan lebar berpaving, lengkap dengan pohon-pohon dikanan kirinya. Pohon yang anggun dan berbunga, tetapi kecil ringkih dan tidak berguna. Jalan yang lebar, rumah berhalaman luas yang makin menjauhkan tetangga dan tetangga, yang saling mengintip dari jendela, curiga mencurigai. 

Apakah itu yang mereka namakan having the quality of life?

Aku bukan orang pintar, bukan pula mengerti soal moral dan agama. Tetapi, bukankah nenek anda juga pernah bilang: jika tidak menghargai sepercik tanda kehidupan tidak mungkin akan mengerti arti kehidupan yang lebih besar. 

Kami undang bapak dan ibu untuk tinggal dan merasakan kampung kami. Barang 1 minggu atau 1 bulan, merasakan apa yang kami rasakan, baru putuskan. 

Bukankah hidup bukan hanya sekedar bangun-sarapan-kerja-pulang-makan-tidur?

1 comment February 23, 2008


Calendar

November 2009
M T W T F S S
« May    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Posts by Month

Posts by Category